Sehari setelah perayaan kemerdekaan Indonesia, ruang publik kembali dipenuhi oleh berbagai persoalan. Rakyat turun ke jalan menyuarakan keresahan terhadap kebijakan pemerintah, dengan membawa 8 tuntutan massa dalam aksi “Mari Rebut Kemerdekaan”, dari tuntutan ini tidak ada yang lebih penting salah satunya, karena semua tuntutan tersebut merupakan urgensi yang harus segera di selesaikan. 8 tuntutan yang kini menjadi masalah krusial yang sedang diderita oleh masyarakat, bukan karena program yang buruk tetapi karena pelaksanaanya yang kurang tepat. Namun kegaduhan hari ini tidak hanya terdengar di jalanan, di tempat lain masyarakat Indonesia sedang menghadapi persoalan yang berbeda yaitu terjadinya bencana bertahan untuk hidup diantara reruntuhan yang menimpa.
Tepat di tanggal 15 agustus 2026, tanah Flores di guncang gempa dengan kekuatan M7,7 dan gempa susulan yang terjadi berkali-kali. Sampai dengan 19 Agustus 2026 tercatat sebanyak 53 jiwa meninggal dunia, korban luka-luka sebanyak 137 jiwa, serta kerusakan di sejumlah wilayah terutama Manggarai Timur, Manggarai Barat, Manggarai hingga Sikka, Maumere. Bagi mereka yang berada disana, persoalannya bukan lagi tentang kebijakan mana yang di anggap benar dan salah. Mereka sedang menghadapi persoalan yang jauh lebih mendasar yaitu keselamatan, kehilangan, dan bagaimana cara bertahan hidup saat dan setelah terjadi bencana Namun persoalan Indonesia tidak berhenti pada apa yang terlihat didepan mata. Ada bencana lain yang berlangsung perlahan dan sering kali luput dari perhatian.
Di Kalimantan, kebakaran hutan menjadi bersoalan yang terus mengancam lingkungan dan kehidupan masyarakat. Dengan indikasi total luas kebakaran hutan dan lahan mencapai 100 hektar lebih. Jika gempa datang dalam hitungan detik dan membuat kita sadar bahwa alam sedang bergerak, kebakaran hutan menunjukan bentuk kerusakan yang berbeda, sesuatu yang dapat merusak secara perlahan namun berdampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
Di jalanan yang dipenuhi oleh suara rakyat, di tanah Flores yang di guncang dengan bencana, hingga hutan Kalimantan yang terbakar. Semuanya membawa kita pada pertanyaan yang sama ”sejauh mana negara hadir ketika masyarakatnya sedang menghadapi krisis?” .
Karena pada akhirnya kehadiran negara bukan hanya soal pemerintah turun tangan ketika masalah sudah terjadi namun, soal bagaimana kebijakan dibuat, pencegahan dilakukan, bagaimana penyampaikan informasi, serta bagaimana masyarakat yang terdampak tidak dibiarkan menghadapi semuanya sendiri.
“Kita tidak akan bisa menghindari bencana sekecil apapun, kita juga mungkin tidak akan pernah memiliki negara tanpa masalah. Tetapi kita masih bisa memilih agar persoalan yang terjadi menjadi alasan untuk memperbaiki sesuatu, karena memilih kendalinya ada pada diri masing-masing manusia.”
Penulis: Zahra Nurfadillah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar